It’s Brand new Me


Mengapa?? Karena Dia Manusia Biasa
November 12, 2007, 2:41 am
Filed under: Pernikahan | Tags:

Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu?

Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban duniawi (cakep atau tajir :D manusiawi lah :P ). Tapi ada satu jawaban yang sangat berkesan di hati saya. Hingga detik ini saya masih ingat setiap detail percakapannya. Jawaban salah seorang teman yang baru saja menikah.
Proses menuju pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya berkenalan 2
bulan. Lalu memutuskan menikah. Persiapan pernikahan hanya dilakukan dalam waktu sebulan saja. Kalau dia seorang akhwat, saya tidak akan heran.
Proses pernikahan seperti ini sudah lazim. Dia bukanlah akhwat, sama
seperti saya. Satu hal yang pasti, dia tipe wanita yang sangat berhati-hati dalam memilih suami. Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika dia memberitahu akan menikah, saya tidak menanggapi dengan serius. Mereka berdua baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya menjadi kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi.

Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal pernikahannya. Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya selama proses pernikahan. Begitu banyak pertanyaan dikepala saya. Asli. Saya pengin tau, kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki itu. Ada apakan gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia bisa memutuskan menikah secepat ini.
Tapi sayang, saya sedang sibuk sekali waktu itu (sok sibuk sih aslinya).
 Saya tidak bisa membantunya mempersiapkan pernikahan. Beberapa kali dia
 telfon saya untuk meminta pendapat tentang beberapa hal. Beberapa kali
 saya telfon dia untuk menanyakan perkembangan persiapan pernikahannya.
 That’s all. Kita tenggelam dalam kesibukan masing-masing.
 Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya
 memutuskan untuk menginap dirumahnya. Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa
 ngobrol -hanya- berdua. Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi,
 sungguh membelenggu kita. Padahal rencananya kita ingin ngobrol tentang
 banyak hal. Akhirnya, bisa juga kita ngobrol berdua. Ada banyak hal yang
 ingin saya tanyakan. Dia juga ingin bercerita banyak pada saya. Beberapa
 kali Mamanya mengetok pintu, meminta kita tidur.
 ”Aku gak bisa tidur.” Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya paham
 kondisinya saat ini.
 ”Lampunya dimatiin aja, biar dikira kita dah tidur.”
 ”Iya.. ya.” Dia mematikan lampu neon kamar dan menggantinya dengan lampu
 kamar yang temaram. Kita melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik. Suatu
 hal yang sudah lama sekali tidak kita lakukan. Kita berbicara banyak hal,
 tentang masa lalu dan impian-impian kita. Wajah sumringahnya terlihat
 jelas dalam keremangan kamar. Memunculkan aura cinta yang menerangi kamar
 saat itu. Hingga akhirnya terlontar juga sebuah pertanyaan yang selama ini
 saya pendam.
 ”Kenapa kamu memilih dia?” Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari
 tidurnya sambil meraih HP dibawah bantalku. Berlahan dia membuka laci meja
 riasnya.
 Dengan bantuan nyala LCD HP dia mengais lembaran kertas didalamnya.
 Perlahan dia menutup laci kembali lalu menyerahkan selembar amplop pada
 saya. Saya menerima HP dari tangannya. Amplop putih panjang dengan kop
 surat perusahaan tempat calon suaminya bekerja. Apaan sih. Saya
 memandangnya tak mengerti. Eeh, dianya malah ngikik geli.
 ”Buka aja.” Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas polos ukuran A4, saya
 menebak warnanya pasti putih hehehe. Saya membaca satu kalimat diatas
 dideretan paling atas.
 ”Busyet dah nih orang.” Saya menggeleng-gelengka n kepala sambil menahan
 senyum. Sementara dia cuma ngikik melihat ekspresi saya. Saya memulai
 membacanya.
 Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan kata-katanya. Begini isi
 surat itu.
 Kepada YTH
 Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan calon
 kakak buat adik-adik saya
 Di tempat
 Assalamu’alaikum Wr Wb
 Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini
 hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya
 mohon, bacalah dulu sampai selesai.
 Saya, yang bernama …… menginginkan anda untuk menjadi istri saya. Saya
 bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Saat ini saya punya
 pekerjaan.
 Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya pekerjaan. Tapi
 yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan
 istri dan anak-anakku kelak. Saya memang masih kontrak rumah.
 Dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak selamannya. Yang pasti,
 saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak kepanasan
 dan tidak kehujanan. Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak
 kelemahan dan beberapa kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi
 saya. Untuk menutupi kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya. Saya
 hanya manusia biasa. Cinta saya juga biasa saja.
 Oleh karena itu. Saya menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan
 merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita
 nanti dapat bersama-sama sampai mati. Karena saya tidak tahu suratan jodoh
 saya. Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah
 yang baik. Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak tahu
 kenapa saya memilih anda. Saya sudah sholat istiqaroh berkali-kali, dan
 saya semakin mantap memilih anda.
 Yang saya tahu, Saya memilih anda karena Allah. Dan yang pasti, saya
 menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah. Saya
 tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin
 menjadi lebih baik dari saat ini.
 Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban pada saya. Saya
 kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan. Semoga Allah ridho dengan
 jalan yang kita tempuh ini. Amin
 Wassalamu’alaikum Wr Wb
 Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali ini
 saya membaca surat ‘lamaran’
 yang begitu indah. Sederhana, jujur dan realistis.
 Tanpa janji-janji gombal dan kata yang berbunga-bunga.
 Surat cinta minimalis, saya menyebutnya :D . Saya menatap sahabat disamping
 saya. Dia menatap saya dengan senyum tertahan.
 ”Kenapa kamu memilih dia.”
 ”Karena dia manusia biasa.” Dia menjawab mantap. “Dia sadar bahwa dia
 manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya. Yang aku tahu
 dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa.
 Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kita dikemudian hari.
 Entah kenapa, Itu justru memberikan kenyamanan tersendiri buat aku.”
 ”Maksudnya?”
 ”Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih
 ada. Iya kan ? Paling gak. Aku tau bahwa dia gak bakal frustasi kalau
 suatu saat nanti kita jadi gembel. Hahaha.”
 ”Ssttt.” Saya membekap mulutnya. Kuatir ada yang tau kalau kita belum
 tidur. Terdiam kita memasang telinga.
 Sunyi. Suara jengkering terdengar nyaring diluar tembok. Kita saling
 berpandangan lalu cekikikan sambil menutup mulut masing-masing. “Udah
 tidur. Besok kamu kucel, ntar aku yang dimarahin Mama.” Kita kembali
 rebahan. Tapi mata ini tidak bisa terpejam. Percakapan kita tadi masih
 terngiang terus ditelinga saya.
 ”Gik…”
 ”Tidur. Dah malam.” Saya menjawab tanpa menoleh padanya. Saya ingin dia
 tidur, agar dia terlihat cantik besok pagi. Kantuk saya hilang sudah,
 kayaknya gak bakalan tidur semaleman nih.
 Satu lagi pelajaran pernikahan saya peroleh hari itu.
 Ketika manusia sadar dengan kemanusiannya. Sadar bahwa ada hal lain yang
 mengatur segala kehidupannya.
 Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah tergores sejak ruh
 ditiupkan dalam rahim.
 Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan berapa lama pernikahnnya
 kelak. Lalu menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai beban
 tapi sebuah ‘proses usaha’.
 Betapa indah bila proses menuju pernikahan mengabaikan harta, tahta,
 ’nama’, dan rupa.
 Embel-embel predikat diri yang selama ini melekat ditanggalkan.
 Ketika segala yang ‘melekat’ pada diri bukanlah dijadikan pertimbangan
 yang utama.
 Pernikahan hanya dilandasi karena Allah semata. Diniatkan untuk ibadah.
 Menyerahkan secara total pada Allah yang membuat skenarionya. Maka semua
 menjadi indah. Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap umat-NYA.
 Hanya Allah yang mampu memudahkan segala urusan. Hanya Allah yang mampu
 menyegerakan sebuah pernikahan. Kita hanya bisa memohon keridhoan Allah.
 Meminta-NYA mengucurkan barokah dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah jua
 yang akan menjaga ketenangan dan kemantapan untuk menikah.
 Lalu, bagaimana dengan cinta? Ibu saya pernah bilang, Cinta itu proses.
 Proses dari ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya. Agar
 cinta itu bisa bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam pernikahan
 yang suci. Witing tresno jalaran garwo(sigaraning nyowo), kalau
 diterjemahkan secara bebas. Cinta tumbuh karena suami/istri (belahan
 jiwa).
 Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha
 menggabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa. Amin.

Sumber ( Unknown )